Habib
Hasan bin Ja’far Assegaf lahir di bogor tahun 1977, di tengah-tengah
wilayah para ulama besar termasuk almarhum kakek beliau Al Imam Al Qutub
Al Habib Abdullah bin Muhsin Alatas sebagai pemimpin para wali
dizamannya. Silsilah beliau menyambung dari ibundanya, yaitu Syarifah
Fatmah binti Hasan bin Muhsin bin Abdullah Alatas.
1. Silsilah :
Al
Habib Hasan bin Ja’far bin Umar bin Ja’far bin Syekh bin Abdullah bin
Seggaf bin Ahmad bin Abdullah bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad bin
Adurrahman Seggaf bin Ahmad Syarif bin Abdurrahman bin Alwi bin Ahmad
bin Alwi bin Syekhul Kabir Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula
Dawileh bin Ali bin Alwi Al Ghuyur bin Al Faqihil Muqaddam Muhammad bin
Ali bin Muhammad Shohibul Mirbath bin Ali Kholi Qosam bin Aliw bin
Muhammad bin alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa bin
Muhammad An Naqib bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far sodiq bin Muhammad Al
Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Al Imam Husein Assibit bin Imam Ali KWH
bin Fatimah Al Batul Binti Nabi Muhammad SAW.
2. Pendidikan
Beliau belajar dengan para habaib dan ulama, diantaranya :
Al
Imam Al Hafidz Al Musnid Al Habib Abdullah bin Abdul qadir Bilfaqih dan
putera-putera beliau : Habib Abdul qadir bilfaqih, Habib Muhammad
bilfaqih, Habib Abdurrahman bilfaqih ( Pondok pesantren Daarul Hadits Al
Faqihiyyah, Malang ).
• Syekh Abdullah Abdun, Daruttauhid malang
• Syekh Umar Bafadhol, Surabaya
• Al Imam Al Arif billah Al Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul qadir Assegaf dan putera-putera beliau diantaranya Al Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf (Yayasan Ats-Tsaqofah Al Islamiyyah ).
• Al Habib Muhammad Anis bin Alwi Al Habsyi (selaku yang mengijazahkan maulid simtudduror).
• Al Habib Abdullah bin Husein syami Alatas dikediaman beliau R.a.
• Al Habib Abubakar bin Hasan Alatas, Martapura.
• KH. Dimyati, Banten.
• KH. Mama Satibi dan putera beliau, Cianjur.
• KH. Buya Yahya, Bandung
• Muallim Sholeh, Bogor.
• Syekh Umar Bafadhol, Surabaya
• Al Imam Al Arif billah Al Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul qadir Assegaf dan putera-putera beliau diantaranya Al Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf (Yayasan Ats-Tsaqofah Al Islamiyyah ).
• Al Habib Muhammad Anis bin Alwi Al Habsyi (selaku yang mengijazahkan maulid simtudduror).
• Al Habib Abdullah bin Husein syami Alatas dikediaman beliau R.a.
• Al Habib Abubakar bin Hasan Alatas, Martapura.
• KH. Dimyati, Banten.
• KH. Mama Satibi dan putera beliau, Cianjur.
• KH. Buya Yahya, Bandung
• Muallim Sholeh, Bogor.
Dan masih banyak lagi para ulama lainnya.
3. Dakwah Beliau
3. Dakwah Beliau
Dakwah
beliau menjunjung tinggi Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Mengajak
para pemuda pemudi, orang-orang tua maupun anak kecil berdzikir dan
bersholawat yang dimulai dari :
• Kota bogor
• Sukabumi
• Bandung
• Jakarta dan sekitarnya.
• Sukabumi
• Bandung
• Jakarta dan sekitarnya.
4. Tujuan Dakwah
Mengikuti kakek moyang beliau sampai kejunjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Dan mengajak para muslimin dan muslimat :
• Membaca Al-Qur’an.
• Membaca Ratib Al-Atas dan Ratib Al-Haddad
• Mengenalkan salaf sholihin dengan berziarah kepada para wali Allah ketempat orang-orang sholeh.
• Membesarkan nama Rasulullah dengan pembacaan maulid
• Membaca Ratib Al-Atas dan Ratib Al-Haddad
• Mengenalkan salaf sholihin dengan berziarah kepada para wali Allah ketempat orang-orang sholeh.
• Membesarkan nama Rasulullah dengan pembacaan maulid
Harapan
Bersabda
Nabi Muhammad SAW : “ Seorang bersama yang dicintainya “, harapan
beliau agar diakui oleh Rasulullah SAW dan datuk-datuknya. Semoga semua
ummat Rasulullah SAW mendapat ridho Allah dan syafaat Rasulullah SAW,
kelak nanti dihari kiamat masuk surga bersama Nabi Muhammad SAW.
Bersabda
Nabi Muhammad SAW : “ Apabila telah tersebar perzinahan, perjudian,
permabukan, anak durhaka kepada orang tua, istri durhaka kepada suami
dan banyaknya yang makan riba maka masuklah kalian kejalan keluargaku,
selamatlah kalian dari malapetaka (Riwayat Abu Daud).
HABIB JINDAN
Kemampuannya sebagai dai bukan hanya karena dia adalah cucu Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, “Singa Podium” dan pejuang dakwah di Betawi tahun 1906-1969. Tapi juga karena sedari kecil dia memang telah tertempa dalam lingkungan pendidikan yang sarat religius.
Kemampuannya sebagai dai bukan hanya karena dia adalah cucu Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, “Singa Podium” dan pejuang dakwah di Betawi tahun 1906-1969. Tapi juga karena sedari kecil dia memang telah tertempa dalam lingkungan pendidikan yang sarat religius.
Wajah
dai yang satu ini tentu sudah banyak dikenal kalangan habaib dan
muhibbin yang ada di Indonesia. Usianya masih relatif muda, 31 tahun,
namun reputasinya sebagai ulama dan muballig sudah diakui kaum muslimin.
Tidak saja di Jakarta, tapi juga di banyak majelis haul dan Maulid yang
digelar di berbagai tempat – seperti Gresik, Surabaya, Solo,
Pekalongan, Tegal, Semarang, Bandung, Palembang, Pontianak dan
Kalimantan. Hampir semua daerah di negeri ini sudah dirambahnya.
Kemampuannya
sebagai dai bukan hanya karena dia adalah cucu Habib Salim bin Ahmad
bin Jindan, “Singa Podium” dan pejuang dakwah di Betawi tahun 1906-1969.
Tapi juga karena sedari kecil dia memang telah tertempa dalam
lingkungan pendidikan yang sarat religius.
Wajah
ulama muda yang shalih ini tampak bersih. Tutur katanya halus, dengan
gaya berceramahnya yang enak didengar dan mengalir penuh untaian kalam
salaf serta kata-kata mutiara yang menyejukkan para pendengarnya.
Seperti kebanyakan habib, dia pun memelihara jenggot, dibiarkannya
terjurai.
Habib
Jindan, putra Habib Novel bin Salim bin Jindan Bin Syekh Abubakar,
adalah salah seorang ulama yang terkenal di Jakarta. Ia juga dikenal
sebagai penerjemah bahasa Arab ke bahasa Indonesia yang andal. “Ketika
dia menerjemahkan taushiyah gurunya, Habib Umar bin Hafidz, makna dan
substansinya hampir sama persis dengan bahasa aslinya. Bahkan waktunya
pun hampir sama dengan waktu yang digunakan oleh Habib Umar,” tutur
Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf di Jakarta.
Berkah Ulama dan Habaib
Habib
Jindan bin Novel bin Salim Jindan lahir di Sukabumi, pada hari Rabu 10
Muharram 1398 atau 21 Desember 1977. Sejak kecil ia selalu berada di
lingkungan majelis ta’lim, yang sarat dengan pendidikan ilmu-ilmu agama.
“Waktu kecil saya sering diajak ke berbagai majelis ta’lim di Jakarta
oleh abah saya, Habib Novel bin Salim bin Jindan. Dari situ saya
mendapat banyak manfaat, antara lain berkah dari beberapa ulama dan
habaib yang termasyhur,” kenang bapak lima anak (empat putra, satu
putri) ini kepada alKisah. Ayahandanya memang dikenal sebagai muballigh
yang termasyhur. Pengalaman masa kecil itu pula yang mendorongnya selalu
memperdalam ilmu agama.
Ketika
ia berumur dua tahun, keluarganya tinggal di Pasar Minggu, bersebelahan
dengan rumah keluarga Habib Salim bin Toha Al-Haddad. Pada umur lima
tahun, ia dititipkan untuk tinggal di rumah Habib Muhammad bin Husein
Ba’bud dan putranya, Habib Ali bin Muhammad bin Husein Ba’abud, di
Kompleks Pondok Pesantren Darun Nasyi’ien (Lawang, Malang). “Di Lawang,
sehari-hari saya tidur di kamar Habib Muhammad Ba’bud. Selama di sana,
dibilang mengaji, tidak juga. Namun berkah dari tempat itu selama
setahun saya tinggal, masih terasa sampai sekarang,” ujarnya dengan
senyum khasnya.
Menginjak
umur enam tahun, ia ikut orangtuanya pindah ke Senen Bungur. Ia
mengawali belajar di SD Islam Meranti, Kalibaru Timur (Bungur, Jakarta
Pusat). Ia juga belajar diniyah pada sebuah madrasah yang diasuh oleh
Ustadzah Nur Baiti.
Kemudian
dia melanjutkan ke tingkat tsanawiyah di Madrasah Jami’atul Kheir,
Jakarta, hingga tingkat aliyah, tapi tidak tamat. Selama di Jami’at
Kheir, banyak guru yang mendidiknya, seperti Habib Rizieq Shihab, Habib
Ali bin Ahmad Assegaf, K.H. Sabillar Rosyad, K.H. Fachrurazi Ibrahim,
Ustadz Syaikhon Al-Gadri, Ustadz Fuad bin Syaikhon Al-Gadri, dan
lain-lain.
Sejak
muda, sepulang sekolah ia selalu belajar pada habaib dan ulama di
Jakarta, seperti di Madrasah Tsaqafah Islamiyah, yang diasuh Habib
Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dan putranya, Ustadz Abu Bakar Assegaf.
Habib Jindan juga pernah belajar bahasa Arab di Kwitang (Senen, Jakarta
Pusat) di tempat Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi, dengan ustadz-ustadz
setempat.
Selain
itu pada sorenya ia sering mengikuti rauhah yang digelar oleh Majelis
Ta’lim Habib Muhammad Al-Habsyi. Di majelis itu, banyak habib dan ulama
yang menyampaikan pelajaran-pelajaran agama, seperti Habib Abdullah
Syami’ Alattas, Habib Muhammad Al-Habsyi, Ustadz Hadi Assegaf, Habib
Muhammad Mulachela, Ustadz Hadi Jawwas, dan lain-lain.
Beruntung,
karena sering berada di lingkungan Kwitang, ia banyak berjumpa para
ulama dari mancanegara, seperti Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Habib
Ja’far Al-Mukhdor, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, dan masih
banyak lainnya.
Pada
setiap Ahad pagi, ia hadir di Kwitang bersama abahnya, Habib Novel,
yang juga selalu didaulat berceramah. Sekitar 1993, ia bertemu pertama
kali dengan Habib Umar Hafidz di Majlis Ta’lim Habib Ali bin Abdurrahman
Al-Habsyi (Kwitang) saat pengajian Ahad pagi. Pertemuan kedua terjadi
saat Habib Umar bin Salim Al-Hafidz berkunjung ke Jami’at Kheir. Saat
itu yang mengantar rombongan Habib Umar adalah Habib Umar Mulachela dan
Ustadz Hadi Assegaf.
Uniknya,
satu-satunya kelas yang dimasuki Habib Umar adalah kelasnya, padahal di
Jami’at Kheir saat itu ada belasan kelas. Begitu masuk kelas, Ustadz
Hadi Assegaf dari depan kelas memperkenalkannya dengan Habib Umar bin
Salim Al-Hafidz. Saat itu, Ustadz Hadi menunjuknya sambil mengatakan
kepada Habib Umar bahwa dirinya juga bermarga Bin Syekh Abu Bakar bin
Salim, sama klannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz.
Saat
itulah Habib Umar tersenyum sambil memandang Habib Jindan. Itulah
perkenalan pertama Habib Jindan dengan Habib Umar Al-Hafidz di ruang
kelasnya, yang masih terkenang sampai sekarang.
Sejak
saat itu hatinya tergerak untuk belajar ke Hadhramaut. Pernah suatu
ketika ia akan berangkat ke Hadhramaut, tapi sayang sang pembawa, Habib
Bagir bin Muhammad bin Salim Alattas (Kebon Nanas), meninggal. Pernah
juga ia akan berangkat dengan salah satu saudaranya, tapi saudaranya itu
sakit. Hingga akhirnya tiba-tiba Habib Abdul Qadir Al-Haddad (Al-Hawi,
Condet) datang ke rumahnya mengabarkan bahwa Habib Umar bin Hafidz
menerimanya sebagai santri.
Sumber Inspirasi
Lalu
ia berangkat bersama rombongan pertama dari Indonesia yang jumlahnya 30
orang santri. Di antaranya Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa, Habib
Qureisy Baharun, Habib Shodiq bin Hasan Baharun, Habib Abdullah bin
Hasan Al-Haddad, Habib Jafar bin Bagir Alattas, dan lain-lain. Ia
kemudian belajar agama kepada Habib Umar bin Hafidz di Tarim,
Hadhramaut. “Ketika itu Habib Umar belum mendirikan Pesantren Darul
Musthafa. Yang ada hanya Ribath Tarim. Kami tinggal di rumah Habib
Umar,” tuturnya.
Baru
dua minggu di Hadhramaut, pecah perang saudara di Yaman. Memang,
situasi perang tidak terasa di lingkungan pondok. Ada perang atau tidak,
Habib Umar tetap mengajar murid-muridnya. Namun dampak perang saudara
ini dirasakan seluruh penduduk Yaman. Listrik mati, gas minim, bahan
makanan langka. “Terpaksa kami masak dengan kayu bakar,” katanya.
Baginya,
Habib Umar bin Hafidz bukan sekadar guru, tapi juga sumber inspirasi.
“Saya sangat mengagumi semangatnya dalam berdakwah dan mengajar. Dalam
situasi apa pun, beliau selalu menekankan pentingnya berdakwah dan
mengajar. Bahkan dalam situasi perang pun, tetap mengajar. Beliau memang
tak kenal lelah.”
Saat
itu Darul Musthafa belum mantap seperti sekarang, situasinya serba
terbatas. Walaupun begitu, sangat mengesankan baginya. Dahulu para
santri tinggal di sebuah kontrakan yang sederhana di belakang kediaman
Habib Umar. Sedangkan pelajaran ta’lim, selain diasuh sendiri oleh Habib
Umar, para santri juga belajar di berbagai majelis ta’lim yang biasa
digelar di Tarim, seperti di Rubath Tarim, Baitul Faqih, Madrasah Syeikh
Ali, mengaji kitab Bukhari di Masjid Ba’alwi, ta’lim di Zawiyah Habib
Abdullah bin Alwi Al-Haddad (Al-Hawi, Hadhramaut), belajar kitab Ihya di
Zanbal di Gubah Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus, Zawiyah Mufti
Tarim, diasuh Syaikh Fadhal bin Abdurrahman Bafadhal, dan lain-lain.
Selama
mengaji dengan Habib Umar, ia sangat terkesan. “Beliau dalam mengajar
tidak pernah marah. Saya tidak pernah mendengar beliau mengomel atau
memaki-maki kami. Kalau ada yang salah, ditegurnya baik-baik dan dikasih
tahu. Selain itu, Habib Umar juga terkenal sangat istiqamah dalam hal
apa pun.”
Habib
Jindan mengaku sangat beruntung bisa belajar dengan seorang alim dan
orator ulung seperti Habib Umar. Memang Habib Umar mendidik
santri-santrinya bisa berdakwah. Para santri mendapat pendidikan khusus
untuk memberikan taushiyah dalam bahasa Arab tiap sehabis shalat Subuh,
masing-masing dua orang, walaupun hanya sekitar lima sampai sepuluh
menit. Latihan kultum itu juga menjadi ajang saling memberikan masukan
antarsantri.
Setelah
satu tahun menjadi santri, ada program dakwah tiga hari sampai seminggu
bagi yang mau dakwah berkeliling. Bahkan dirinya sudah mengajar untuk
santri-santri senior pada akhir-akhir masa pendidikan.
Setelah
selama kurang lebih empat tahun, tahun 1998, ia pulang ke Indonsia
bersama rombongan Habib Umar yang mengantar sekaligus santri-santri asal
Indoensia dan berkunjung ke rumah beberapa muridnya. Angkatan pertama
ini hampir seluruhnya dari Indonesia, hanya dua-tiga orang yang santri
setempat. Untuk itulah, ia pulang seminggu terlebih dahulu, untuk
mempersiapkan acara dan program kunjungan Habib Umar di Indonesia.
Saat
pertama kali pulang, ia, oleh sang abah, diperintahkan untuk berziarah
ke para habib sepuh yang ada di Jakarta, Bogor, dan sekitarnya.
Ayahandanya, Habib Novel, Habib Hadi bin Ahmad Assegaf, dan Habib Anis
Al-Habsyi mendorongnya untuk berdakwah.
Masukan,
didikan, dan motivasi sang abah ia rasakan hingga sekarang. “Ikhlaslah
dalam berdakwah. Apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati,” kata
Habib Jindan menirukan abahnya. Habib Novel (alm.) memang dikenal
sebagai orator ulung sebagaimana abahnya, Habib Salim bin Jindan.
Wajarlah bila Habib Novel ingin putra-putranya menjadi dai-dai yang
tangguh.
“Kalau
ceramah, jangan terlalu panjang. Selagi orang sedang asyik, kamu
berhenti. Jangan kalau orang sudah bosan, baru berhenti, nanti banyak
audiens kapok mendengarnya. Lihat situasi dan keadaannya, sesuaikan
dengan materi ceramahnya dan waktu ceramahnya. Lihat, kalau di situ ada
beberapa penceramah, kamu harus batasi waktu berceramah dan bagi-bagi
waktunya dengan yang lain.” Sampai masalah akhlaq dan sopan santun,
semua orang diajarkan.
Sumber: http://biografiparahabib.blogspot.com/2011/05/biografi-habib-hasan-bin-jafar-assegaf.html
0 Komentar untuk "Biografi Habib Hasan Bin Ja`far Assegaf "
Silahkan berkomentar dengan sopan dan bijak sesuai dengan tema artikel dan pastinya
NO SPAM NO SARA AND NO LIVE LINK ALLOWED... okk ;-)